Gempabumi Kairatu 26 September 2019: Suatu Pembelajaran untuk Mitigasi Bencana Yang Terencana.

(Mengenang Satu Tahun Gempabumi Kairatu)

Dosen Jurusan Fisika FMIPA UNPATTI

Pendahuluan

Gempabumi pada dasarnya adalah suatu peristiwa alam biasa yang sudah sering terjadi pada daerah-daerah tektonik dan vulkanik (gunung berapi). Fenomena ini tidak jauh berbeda dengan peristiwa alam lain seperti hujan, angin, badai, dll. Peristiwa gempabumi menjadi heboh karena rata-rata masyarakat masih awam dan menganggap sebagai suatu ‘kejadian’ langka. Andaikan saja kejadiannya hampir mirip dengan musim penghujan, musim angin, badai maka hal itu akan menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja. Bedanya adalah bahwa sampai saat ini, belum ada alat dan ahli di seluruh dunia yang mampu memprediksi kapan terjadinya (waktu), dimana terjadinya (lokasi) dan seberapa besar magnitudonya (energy). Gempabumi sebagai fenomena alam biasa yang kemudian menjadi bencana saat berhubungan dengan aktivitas manusia. Jadi selama tidak terkait langsung (merugikan) dengan manusia, sebanarnya bukanlah suatu bencana, melainkan tetap sebagai suatu kejadian alam biasa. Data-data kejadian gempa, baik tektonik maupun vulkanik banyak terjadi di tengah laut/ samudera setiap hari, namun karena jauh dari aktivitas manusia sehingga jarang diperhatikan, hanya menjadi konsumsi para peneliti ataupun akademisi.

Gempabumi yang menggoncang Pulau Ambon dan sekitarnya pada 26 September 2019 yang lalu mengakibatkan berbagai kerugian, baik materi maupun nyawa manusia. Sumber berita online Beritagar 08 Oktober 2019: BPBD mencatat korban meninggal dunia berjumlah 39 jiwa, korban luka berat hingga ringan sebanyak 1.578 jiwa. Pengungsi, mencapai 170.900 jiwa, jumlah rumah rusak berat 1.273 unit, rusak sedang 1.837 unit, dan rusak ringan 3.245 unit. Sementara untuk fasilitas umum dan fasilitas sosial (fasum-fasos) mencapai 512 unit.

Penyebab utama terjadinya gempabumi adalah pergerakan lempeng tektonik yang bergeser satu dengan yang lain. Berdasarkan pemodelan mekanisme sumber gempa, baik oleh USGS maupun oleh BMKG, mekanisme pergeseran sesar gempa Kairatu adalah sesar geser. Artinya bahwa gempa yang terjadi disebabkan oleh persinggungan dua lempengan kecil pada bidang patahan yang saling menggeser secara mendatar satu dengan yang lain. Jenis sesar seperti ini tidak membangkitkan Tsunami. Akumulasi energi yang ditimbulkan oleh pergeseran ini tidak dapat ditahan oleh perlapisan batuan sehingga batuan disekitar menjadi rapuh dan terlepas. Pada saat itulah gempa terjadi. BMKG merilis data gempa susulan per 19 Desember 2019, 2.756 kejadian. Peristiwa dengan kejadian gempa susulan ini menjadi yang terbanyak di Indonesia pasca terjadinya gempa utama 6,5 SR. Berdasarkan gambaran ini, dua hal yang menyebabkan gempa susulan sangat banyak, pertama akumulasi energy yang dihasilkan cukup besar sehingga menimbulkan peningkatan tegangan (stress) pada batuan. Kedua, batuan yang ada disekitar lokasi utama gempabumi cukup rapuh sehingga mudah mengalami goncangan saat tegangan didistribusikan. Rapuh dalam pengertian ini adalah mudahnya batuan bergeser saat tegangan terdsitribusi dari sumber gempa utama.

Fakta Geologi dan Tektonik

Fakta banyaknya kejadian gempa di pulau Ambon dan sekitarnya menjadikan tingkat seismisitasnya cukup tinggi. Secara geologi dan tektonik, Maluku terletak pada jalur gempa dunia (Ring of fire). Hampir sabagian besar Wilayah Indonesia dilewati oleh jalur gempa dunia ini. Mulai dari Aceh, barat Sumatera, selatan Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kepulauan Maluku, Maluku Utara, Papua terus sampai ke Sulawesi bagian Utara. Oleh karena itu, ketika kita dihadapkan pada peristiwa gempabumi, baik di Indonesia maupun di Pulau Ambon dan sekitarnya, kita tidak lagi menghabiskan waktu membicarakan peristiwa gempanya tetapi kita harus lebih fokus pada proses pengurangan resiko (risk reduction). Indonesia akan selalu mengalami gempabumi, meskipun waktu, lokasi dan besarnya belum diketahui secara pasti tapi bahwa yang pasti gempabumi akan selalu terjadi, termasuk di Pulau Ambon dan sekitarnya. Karena itu, segala daya dan upaya masyarakat, pemerintah, LSM, dan semua stakeholder harus lebih diutamakan pada tindakan kesiapsiagaan menghadapi bencana. Jika bagian ini dipahami dan dilaksanakan secara baik, maka tingkat kerugian yang timbul akan semakin berkurang.

 

Usulan Upaya Mitigasi

 

Beberapa upaya yang mungkin dilakukan adalah pertama, penguatan infrastruktur yang memperhatikan nilai kegempaan suatu daerah (membangun gedung tahan gempa). Pemerintah telah lama merilis peta percepatan tanah di seluruh Indonesia untuk dijadikan acuan dalam pembangunan, namun terkadang pada tingkat pengawasan terhadap implemantasi penggunaan angka kegempaan ini yang kurang diperhatikan, sehingga banyak gedung/ infrastruktur yang dibangun tidak tahan terhadap goncangan gempabumi (Ringkasan Hasil Studi Tim Revisi Peta Gempa Indonesia 2010; Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017). Infrastruktur yang harus menjadi prioritas penguatan tahan gempa adalah fasilitas-fasilitas umum seperti sekolah, kampus, rumah sakit, dan rumah-rumah ibadah yang pada akhirnya dapat digunakan untuk lokasi evakuasi. Hal seperti ini telah dilakukan di Jepang (White Paper: Disaster management in Japan, 2015). Kedua, relokasi pemukiman jauh dari garis pantai, jika ini sulit maka pemerintah dapat membangun tembok-tembok pemecah gelombang. Ketiga, pemerintah harus membuka akses sebanyak dan seluas mungkin yang menjadi jalur evakuasi. Pulau Ambon secara topografi sangat memungkinkan penduduknya selamat dari Tsunami karena jarak dari garis pantai ke daerah perbukitan cukup dekat. Mungkin hanya membutuhkan waktu 10-20 menit untuk mencapai daerah ketinggian. Persoalannya adalah minimnya akses ke daerah perbukitan. Rata-rata ruas jalan yang menuju ke perbukitan masih tergolong sempit dan jumlahnya belum memadai. Hal ini terlihat saat kejadian gempa setahun lalu, terjadi kemacetan yang luar biasa pada jalur-jalur evakuasi. Keempat, kesadaran masyarakat jauh lebih penting dalam menyikapi kondisi saat terjadi gempabumi. Masyarakat harus terlatih untuk tidak panik saat terjadi gempa sehingga memungkinkan dapat berpikir secara jernih untuk mengambil langkah-langkah penyelamatan diri, keluarga maupun orang lain. Hasil riset menunjukkan hampir 66% orang selamat karena kemampuannya menyelematkan diri sendiri dan pertolongan orang terdekat. Warga Kobe yang selamat dari bencana tahun 1995 karena upaya pertolongan sendiri (34,9%), pertolongan keluarga (31,9%), pertolongan teman atau tetangga (28,0%), pertolongan pejalan kaki (2,6%), pertolongan oleh tim penyelamat (1,7%), dan pertolongan lainnya (0,9%). Dari data tersebut tampak bahwa upaya pertolongan sendiri jauh lebih besar pengaruhnya. Masyarakat yang paham mitigasi akan memiliki peluang selamat lebih besar (Pusat Gempa Nasional: BMKG, 2018). Kejadian gempa 11 Maret 2011 di Jepang, pertolongan diri sendiri (self-help) dan pertolongan orang lain (mutual-help) sangat signifikan memberikan kontribusi bagi keselamatan nyawa manusia dibandingkan pertolongan dari banyak pihak (public-help) (Implementation Handbook for Disaster Resilience Education at the Regional Level, 2015). Sikap ini perlu dilatih sejak dini sehingga pada akhirnya menghasilkan masyarakat yang tangguh bahkan sampai pada level adaptif terhadap bencana. Upaya ini telah dan sedang dilakukan oleh BNPB melalui program KATANA (keluarga tangguh bencana). Kelima, dalam rangka mitigasi jangka panjang, khusus pada daerah-daerah dengan aktivitas kegempaan yang cukup tinggi seperti Maluku, pemerintah perlu mempertimbangkan adanya pelajaran kebencanaan dan pengurangan resiko dalam kurikulum pendidikan. Pembelajaran dapat dimulai dari tingkat Sekolah Dasar sampai pada tingkat Universitas. Materi dapat disesuaikan dengan tingakatan pendidikan. Muara program ini untuk menghasilkan masyarakat yang dapat beradaptasi terhadap bencana. Program ini telah dilakukan di Jepang dan terbukti menyelamatkan jutaan nyawa manusia (Disaster Prevention Education in Japan/ Disaster risk reduction Education in Japan).

Keenam, untuk para akademisi, peneliti dan badan-badan riset terkait, perlu melakukan identifikasi sesar-sesar aktif, baik di darat maupun di dasar laut sekitar Ambon, mempelajari jalur-jalur sesar aktif dan terus melakukan studi untuk memperbaharui peta resiko bencana demi tata kota/ tata ruang dan bangunan yang tahan terhadap bencana.  Kesadaran akan posisi kita secara geologi harusnya menjadikan kita untuk terus berupaya hidup dan terbiasa dengan kondisi yang sewaktu-waktu terjadi bencana. Bencana sulit untuk dihindari tapi resikonya dapat kurangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Translate »